SHOLAT WITIR SATU SALAM


SHOLAT WITIR SATU SALAM

___________________


Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh


Mohon penjelasan Ustadz tentang shalat witir dan hal-hal yang berkaitan dengan witir

___________________


Pertanyaannya;


1-Apakah boleh shalat witir 3 rakaat diwashol disatukan menjadi satu salam, kalau boleh lalu mana yang lebih utama disatukan menjadi satu tasyahhud dan dipisah dengan 2 tasyahud?


2-Bagaimàna cara talaffudh binniyah jika dipisah menjadi dua salam, Mohon penjelasannya Ustadz yang lengkap yaa...

___________________


JAWABAN :


Waalaikumsalam Warohamatullahi Wabarokatuh..


Poin pertama ;


HUkumnya Boleh.


Uraian ;


sholat witir tiga rokaat, memiliki dua cara ;


Cara pertama :


tasyahhud_nya satu kali yaitu pada rokaat ketiga sebelum salam


Cara kedua :


Tasyahhud_nya dua kali, pada roka’at kedua dan roka’at ketiga


Cara pertama adalah yang utama, supaya teknis_nya tidak menyerupai sholat maghrib.


Poin kedua ; lebih utama dipisah ( dua rokaat salam kemudian satu roka’at salam ),


Alasannya karena akan menimbulkan lebih banyak gerakan


( لزيادةالاعمال فيه )


Sesuai dengan qoidah fiqih


(ماكان اكثر فعلا كان اكثر فضلا )


Semakin banyak pekerjaannya maka semakin banyak pula keutamaannya)


Sumber dari qoidah ini adalah hadist yang di riwayatkan Siti Aisyah:


Rosulullah berkata:


اجرك على قدر نصبك


Kadar pahala tergantung kadar kepayahan yg kemudian sebagian contohnya di sebutkan didalam kitab


مواهب السنية :

ومن فروعها ان فصل الوتر افضل من وصله،


Karena melakukan witir secara فصل ( melakukan witir dua rokat lalu salam ) mengandung penambahan niat, takbir dan salam, dan tentunya ada kesulitan ( مشقة) dalam praktek sperti ini serta kadar pahala tergantung tingkat kesulitan,


Begitulah uraian dari;


الشيخ ابي الفيض محمد يس بن عيس الفاداني المكي


dalam kitab

الفواءد الجنية


Referensi :


نهاية الزين: ص.١٠١

والوصل بتشهد أفضل منه بالتشهدين فرقا بينه وبين المغرب،وهذا جار فيمالو أحرم بزيادة على ثلاثة دفعة لما فى اﻹتيان بتشهدين من مشابهته للمغرب فى الجملة. والفصل أفضل من الوصل لزيادة اﻷعمال فيه،


الفوائد الجنية ٤٩١

القاعدة التاسعة عشر

ماكان اكثر فعلا كان اكثر فضلا_ الى ان قال _ واصلها من الحديث المنتخب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اجرك على قدر نصبك _ الى ان قال _

ومن فروعها ان فصل الوتر افضل من وصله _ الى ان قال_ لان في الوصل زيادة النية والتكبير والسلام فكانت المشقة فيه اكثر من الوصل والاجر على قدر المشقة


2- Poin kedua :


Lafadz niat satu roka’at witir :


اصلي ركعة الوتر لله تعالى


Untuk yang dua roka’at witir ada dua versi lafaz niat:


_ Menurut imam ibnu hajar dan ali syimbromulsi ( tidak wajib menyebut lafadz من sebelum lafadz ركعتين )


١ – أصلى سنة الوتر ركعتين لله تعالى .


_ versi Syarah minhaj , nihayah dan lainnya

( wajib menyebut lafadz من sesudah lafadz ركعتين)


٢- أصلى سُنَّةً رَكْعَتَيْن من الوتر /ِ أصلي ركعتين من الوتر


Uraian ;


kriteria niat sholat sunnah ( termasuk witir ) :


1. Sengaja ( hendak ) sholat ; قصد فعل الصلاة seperti اصلي


2. Menentukan sholat yang ingin dikerjakan; ; تعيين الصلاة seperti وترا


3. Status hukum sholat ( sunnah ) ; نية النفلية seperti سنة


4. Status dilaksanakan di waktu atau mengganti ; نية الادأ والقضأ seperti ادأ atau قضأ


5. Menyandarkan ibadah kepada Allah; الاضافة الى الله تعالى seperti لله تعالى


6. Khusus dua roka’at witir di tambah lafadz من ( bermakna sebagian )


Catatan:


nomor satu dan dua adalah syarat niat bagi sholat sunnah.


Nomor tiga sampai enam, ulama tidak satu pendapat; ada yang mengatakan syarat ada yang mengatakan bukan syarat


Refrensi:


المحلي ص: ١٦٠ _١٦١


( دون الاضافة الى الله ) فلاتجب لان العبادة لاتكون الا له تعالى ،وقيل : تجب ليتحقق معنى الاخلاص. (و) الاصح (انه يصح الادأ بنية القضأ وعكسه) هو قول الاكثرين القائلين بأنه لا يشترط في الادأ نية الادأ ، ولا في القضأ نية القضأ، وعدم الصحة مبني على اشتراط ذالك، ومرادهم كما قال في الروضة : الصحة لمن نوى جاهل الوقت لغيم او نحوه اي ظانا خروج الوقت او بقأه ، ثم تبين الامر بخلاف ظنه، اما العالم بالحال فلا تنعقد صلاته قطعا لتلاعبه، نقله في شرح المهذب عن تصريحهم


والنفل ذو الوقت او السبب كالفرض فيما سبق ( من اشتراط قصد فعل الصلاة وتعيينها كصلاة عيد الفطر _ الى ان قال_ والوتر )


وفي اشتراط نية النفلية وجهان كما في نية الفرضية قلت الصحيح لاتشترط نية النفلية والله اعلم _ الى ان قال _


وفي اشتراط نية الادأ والقضاء والاضافة الى الله تعالى الخلاف السابق


لا يلزم الناوى لركعتين من نحو التراويح والوتر إستحضار *من التبعيضية* عند ابن حجر و ع ش. ورجح فى شرح المنهج والنهاية وغيرهما لزومها.

( بغية المسترشدين ص ٤٠)


Referensi:


Kitab Al-Mahalli, hlm. 160–161:


1. (Tanpa mengidhofatkan kepada Allah) : Tidak diwajibkan, karena ibadah hanya untuk Allah semata. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa hal ini diwajibkan agar tercapai makna keikhlasan.

2. (Dan) pendapat yang lebih kuat  (adalah bahwa sah menjalankan qadha dengan niat adha, dan sebaliknya) : Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa tidak disyaratkan niat adha (shalat pada waktunya) untuk pelaksanaan shalat, begitu pula tidak disyaratkan niat qadha untuk shalat di luar waktunya. Pendapat yang tidak membolehkan hal ini didasarkan pada anggapan bahwa niat tersebut adalah syarat. Maksud mereka, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ar-Raudhah, adalah sah shalatnya orang yang berniat dalam keadaan ragu karena menduga waktu sudah habis atau masih ada, lalu kemudian kenyataannya bertolak belakang dengan dugaannya. Namun, bagi orang yang tahu dengan pasti bahwa waktu sudah habis atau belum, shalatnya tidak sah sama sekali karena dianggap bermain-main, sebagaimana disebutkan dalam Syarh Al-Muhadzab berdasarkan penegasan para ulama.


---


Shalat Sunnah yang terikat waktu atau sebab sama seperti shalat fardhu


Shalat seperti ini memiliki syarat yang sama dengan shalat fardhu, yaitu harus ada niat untuk melakukan shalat dan menentukan jenis shalatnya (seperti shalat Idul Fitri, dst.), termasuk shalat witir.


Terkait dengan syarat adanya niat shalat sunnah , terdapat dua pendapat sebagaimana dalam pembahasan niat untuk shalat fardhu. Pendapat yang lebih kuat adalah tidak disyaratkan adanya niat khusus untuk shalat sunnah.


---


Dalam hal niat adha, qadha, dan menyandarkannya kepada Allah, terdapat perbedaan pandangan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. 


Untuk seseorang yang berniat melakukan dua rakaat seperti shalat tarawih dan witir, tidak wajib mengingat detail "niat sebagian" menurut pendapat Ibnu Hajar dan Syekh Al-Bakri. Namun, dalam kitab Syarh Al-Minhaj dan An-Nihayah , serta yang lainnya, disebutkan bahwa hal ini diwajibkan.


(Bughiyatul Mustarsyidin, hlm. 40)


Wallahu a'lamu bish-shawab (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenarannya). 

___________________


4 Maret 2025

Posting Komentar

Harap berkomentar yang bisa mendidik dan menambah ilmu kepada kami

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler