_@ Langit Dua Dunia @_
___________________
HUKUMNYA SAWER PADA PENYANYI ATAU QORI PADA ACARA RESEPSI PERNIKAHAN
_________________
HUKUMNYA SAWER (BERSEDEKAH ) PADA ACARA WALIMAH
Asslamualaikum
Biasanya manakala sebagian masyarakat Mengadakan acara Walimatul urs , walimatul hitan dll, mereka terkadang mengundang orkes dan penyanyi, gambus al-Banjari , atau shalawatan atau seorang Qori’ pada acara pengajian bergantung pada kehobiannya.Ketika acara dimulai terkadang penonton menyawer manakala narasi lagu dan syi’iran lantunan shalawat bagus dan menyentuh hati, atau lagu Qori’ seperti Nahawan , sika ros – yang menyentuh Kalbu lalu kemudian mereka nyawer ( memberi uang) sekedarnya, Tapi sebagian masyarakat menilai sawer itu kurang baik pasalnya termasuk menghambur-hamburkan harta.
Pertanyaan :
Bagaimana hukum nyawer uang kepada penyanyi atau kepada qori’?
Apa tidak termasuk membantu kegiatan kemaksiatan?
Waalaikum salam.
Jawaban : No 1
Hukum sawer memberikan uang diacara walimatul urs atau walimatul hitan kepada penyanyi, atau kepada qori’ adalah:
🅰️.Jika memberi Nyawer sebagai imbalan/pendukung nyayian dan musik hukunya haram , begitu juga halnya nyawer pada Qori’ yang mengganggu kekhusu’an atas ibadahnya orang yang membaca Al-Qur’an, dan termasuk menghina tidak menghormati al-Qur’an maka hukumnya haram.
Berikut hadits tentang mendukung pada kemaksiatan disebutkan dalam kitab Bidayatul hidayah.
كما قال صلى الله عليه وسلم: (من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا فيها) .
Sebagaimana apa yang telah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sabdakan :
من أعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا له فيها
“Barangsiap yang saling menolong atas kemaksiatan meskipun dengan setengah kalimat maka ia itu termasuk bekerja sama dalam bermaksiat.”
Sebagaimana firman Allah.
تعاونوا على البر والتقوى ولاتعاونوا على الإثم والعدوان
Tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong kamu sekalian pada perbuatan dosa dan permusuhan.
Berikut hadits Rasulullah saw tentang larangan mengganggu ibadahnya orang membaca Al-Qur’an :
أفضل عبادة أمتي قرآءة القرآن
Paling utamanya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.
اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ : « أَلاَ إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِى الْقِرَاءَةِ »
Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tikaf di masjid, beliau n pernah mendengar para sahabat saling mengeraskan suara saat membaca al-Qur’ân, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar menemui mereka seraya bersabda, “Ketahuilah, bahwasanya kalian ini sedang bermunajat kepada Allâh Azza wa Jalla . Janganlah kalian saling mengganggu satu sama lain dan jangan pula kalian saling mengangkat suara dalam membaca al-Qur’ân atau berdzikir”. [HR Abu Dâwud, 1334].
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Aash radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
عن عبد الله بن عمرو وجابر بن عبد الله رضي الله عنهم مرفوعاً: «المسلمُ من سَلِمَ المسلمونُ من لسانهِ ويَدِهِ، والمهاجرُ من هَجَرَ ما نهى اللهُ عنهُ». وعن أبي موسى رضي الله عنه قال: قلتُ: يا رسولَ اللهِ أَيُّ المسلمينَ أَفْضَلُ؟ قال: «مَنْ سَلِمَ المسلمونُ من لِسانِهِ وَيَدِه
[صحيح] –
حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنه: متفق عليه. حديث جابر رضي الله عنه: رواه مسلم. حديث أبي موسى رضي الله عنه: متفق عليه
الشرح
المسلم من سلم المسلمون من لسانه فلا يسبهم، ولا يلعنهم، ولا يغتابهم، ولا يسعى بينهم بأي نوع من أنواع الشر والفساد، وسلموا من يده فلا يعتدي عليهم، ولا يأخذ أموالهم بغير حق، وما أشبه ذلك، والمهاجر من ترك ما حرم الله تعالى
🅱️ Jika memberi karena takut dari gangguan penganiayaan orang yang dhalim, maka hukumnya tidak haram, namun Haram diterima, oleh penyanyi atau Qori’.sebagaimana keterangan dalam kitab Mughni berikut:
مغنى المحتاج. ج ٢ ص ٣٣٧
وجعل فى التنبيه من المحرمات الغناء ، وفيه كلام ذكرته فى شرحه ، ولايجوز أخذ العوض على شيئ من ذلك كبيع الميتة : أماالإستئجار على حمل الخمر للإراقة أو حمل المحترمة فجائز كنقل الميتة إلى المزبلة، وكما يحرم أخذ الأجرة على المحرمة يحرم إعطائها إلا لضرورة ، وإعطاءِ الشاعر لئلايهجوه ، والظالم ليدفع ظلمه ، والحاكم ليحكم بالحق ، فلايحرم الإعطاء عليها.
Beliau menganggap nyanyian itu haram, dan ada perkataan yang saya sebutkan dalam penjelasannya, dan tidak boleh mengambil imbalan apapun, seperti menjual bangkai hewan, adapun mempekerjakan seseorang untuk membawa anggur untuk persembahan, atau untuk membawa hewan yang suci, hal ini diperbolehkan, seperti mengangkut hewan yang mati ke tempat pembuangan kotoran, dan sebagaimana dilarangnya mengambil bayaran dari hewan yang haram, maka dilarang pula memberikannya kecuali karena dalam kondisi dloruroh, dan memberi kepada seorang penyair. agar dia tidak menghinanya, dan memberi kepada orang yang dhalim agar tertolak penganiayaannya, dan penguasa harus memerintah dengan benar (adil), maka tidak dilarang memberi padanya.
بغية المسترشدين، ١٩٥;١٩٦)
(مَسْئَلَةٌ)
مَا جَرَتْ بِهِ عَاَدةُ اّلنَاسِ فِي اْلأَفْرَاحِ كَالْعُرْسِ وَاْلخِتَانِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ اَنَّ نَحْوَ اْلمُزَيِّنِ اّلَذِيْ يَخْدِمُ صَاحِبَ اْلفَرَحِ يَضَعُ طَاسَةً بَيْنَ يَدَيْ صَاحِبِ اْلفَرَحِ فَيَطْرَحُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الّنَاسِ شَيْئًا صَاحِبَ اْلفَرَحِ مِنَ الّدَرَاهِيْمِ بِقَدْرِهِ عَلَى طَرِيْقَةِ اْلمُعَاوَنَةِ لَهُ فِيْ ذَلِكَ وَيَطْرَحُ فِي الّطَاسَةِ اْلمَذْكُوْرَةِ أَيْضًا شَيْئًا مِنَ الّدَرَاهِمَ يَقْصِدُ بِهِ اْلمُزَيِّنُ وَمَنْ حَضَرَ مَعَهُ اْلمُزَيِّنِيْنَ اْلمُعَاوَنِيْنَ لَهُ فِي اْلخِدْمَةِ الْمُخْتَاجِ إِلَيْهَا فِي ْالَفرَحِ الْمَذْكُوْرِ وَجَرَتِ اْلعَادَةُ بِقِسْمَةِ ذَلِكَ بَيْنَ مَنْ حَضَرَ كُلٌّ بِمَا يَلِيْقُ بِه ِبِحَسَبِ مُعَاوَنَتِهِ وَمَا بَقِيَ يَأْخُذُهُ اْلمَزَيِّنُ اْلمَذْكُوْرُ فَالْمُجْتَمِعُ مِنَ الّدَارَهِمِ فِي الطَّاسَةِ اْلمَذْكُوْرَةِ يَكُوْنُ بَيْنَ الْمَذْكُوْرِيْنَ عَلَى مَا جَرَتْ بِهِ اْلعَادَةُ وَاْلعُرْفُ فِيْ كَيْفِيَةِ قِسْمَتِهِ أَخْذًا ِمَّما ذَكَرَ ْابنُ الّصَلَاحِ فِيْ الَوقْفِ اَِّن اْلعَادَةَ الْمُقَارَنَةَ لِلْوَقْفِ بِمَنْزِلَةِ الشرْطِ فَلَيْسَ لِلْمُزِّينِ أَخْذًا.
(SATU PERSOALAN ) Hal inilah yang menjadi adat istiadat masyarakat dalam acara perkawinan, seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain, seperti penghias yang melayani orang yang merayakan meletakkan mangkok diantara tangan orang yang membawa keceriaan, masing-masing umat melempar. sebanyak-banyaknya uang yang dia mampu untuk membantunya dalam hal itu dan melemparkannya kepada orang yang berbahagia. Mangkuk tersebut juga berarti sesuatu yang terbuat dari dirham.
Bersama dialah yang menghiasi dan mereka yang hadir bersamanya adalah para penghias yang membantunya dalam hal itu. layanan yang dia butuhkan dalam kegembiraan tersebut di atas.
Adatnya uang itu dibagikan kepada yang hadir, masing-masing menurut apa yang cocok bagi dirinya, menurut bantuannya, dan sisanya diambil oleh penghias tersebut, sehingga masyarakat menyetujuinya. keduanya disebutkan, menurut apa yang menjadi adat dan adat istiadat mengenai cara pembagiannya, berdasarkan apa yang disebutkan oleh Ibnu al-Sa’l.Terbukti dalam wakaf bahwa kebiasaan membandingkan wakaf sama kedudukannya dengan suatu syarat. , jadi tidak ada bagi yang berhias berhak mengambilnya.
Jawaban. No.2
Jika dalam acaranya jelas mengandung maksiat maka termasuk membantu kepada maksiat, hal itu dilarang dalam agama.
(إسعاد الرفيق ج، ٢/١٢٧)
( ومنها (الاعانة على المعصية) اي عَلَى مَعْصِيَةٍ مِنْ مَعَاصِي اللهِ بِقَوْلٍ اَوْ فِعْلٍ اَوْغَيْرِهِ ثُمَّ اِنْ كَانَ اْلمَعْصِيَةُ كَبِيْرَةً كَانَتِ اْلاِعَاَنةُ عَلَيْهَا كبَِيْرَةً كَذَلِكَ كَمَا فِيْ الّزََوَاجِرِ اهـ
(Is’ād ar-Rafīq, Juz 2/127)
“Di antaranya adalah membantu dalam kemaksiatan, yaitu membantu dalam suatu maksiat dari maksiat-maksiat kepada Allah, baik dengan ucapan, perbuatan, atau lainnya. Kemudian, jika maksiat tersebut termasuk dosa besar, maka membantu dalam maksiat itu juga dihukumi sebagai dosa besar, sebagaimana yang disebutkan dalam Az-Zawājir.”
حاشية الصاوي على تفسير الجلالين (ص: ١٦٩٣، بترقيم الشاملة آليا)
قوله: (أي أقبح جزاء عملهم أشار بذلك إلى أن الكلام على حذف مضاف، دفعاً لما قد يتوهم أنهم يجزون بنفس عملهم الذي عملوه في الدنيا كالكفر مثلاً، والمعنى أن المستهزئين برسول الله يجازون بأقبح جزاء أعمالهم، وفي هذه الآية وعيد لكل من يفعل اللغط في حال قراءة القرآن، ويشوش على القارئ ويخلط عليه، فإنه حرام بإجماع إن لم يقصد إبطال النفع بالقرآن كراهة فيه، وإلا فهو كافر.
دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين (٢٦٦)
باب التحذير من إيذاء الصالحين يحتمل أن يراد به المعنى الأعم: أي المسلمين كما حمل عليه الولد الصالح في قوله: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا . ثلاث الحديث، ويشهد لهذا الآية الأولى ويحتمل أن يراد به المعنى الخاص، وهو القائم بما عليه من حق الله سبحانه أو لأحد من عباده ( والضعفة) جمع ضعيف والمساكين المراد منه ما يشمل الفقراء والمراد التحذير من إيذاء من لا ناصر له إلا الحق سبحانه من صالح ومسكين وضعيف لا يؤبه به ولا يقام للتعرض، وظاهره أن الكلام في الإيذاء بغير حق كما في الآية فلا يرد نحو حد لأنه مأمور به قال الله تعالى: {والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا ) (بغير جناية استحقوا بها ) ( فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناً ) ( ظاهراً قيل إنها نزلت في المنافقين يؤذون علياً رضي الله عنه وقيل في أهل الإفك، وقيل في زناة كانوا يتبعون النساء وهن كارهات
Hasyiah al-Shawawi pada Tafsir al-Jalalayn (hal. 1693, nomor halaman menurut sistem penomoran al-Shamila):
Beliau (yakni penulis tafsir) berkata, “(Artinya: yaitu balasan yang paling buruk atas perbuatan mereka).”
Beliau mengisyaratkan dengan ini bahwa kata (yang seharusnya menjadi) tambahan di sini dihilangkan, untuk menolak dugaan bahwa mereka akan mendapat balasan yang sama dengan perbuatan mereka di dunia, seperti perbuatan kafir misalnya. Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang meremehkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan mendapat balasan yang paling buruk atas perbuatan mereka. Dan dalam ayat ini terdapat ancaman bagi siapa saja yang membuat keributan ketika membaca Al-Qur’an, dan mengganggu pembaca serta membuat bingung, maka hal itu haram secara ijma’ (konsensus ulama), jika ia tidak bermaksud menghilangkan manfaat Al-Qur’an karena membencinya.
Jika niatnya demikian, maka ia kafir.
Terjemahan Dalil al-Falihin li Thuruq Riyad al-Salihin (hal. 266):
Bab tentang peringatan untuk tidak menyakiti orang-orang saleh, kemungkinan yang dimaksud adalah makna yang lebih luas, yaitu seluruh umat Islam, sebagaimana yang dipahami dari hadits tentang anak yang saleh, yang berbunyi: “Apabila seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali…” dan seterusnya. Ayat pertama ini mendukung makna yang lebih luas tersebut. Namun, kemungkinan juga yang dimaksud adalah makna yang lebih khusus, yaitu orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala atau terhadap salah seorang hamba-Nya. (Kata) “al-dha’ifah” (yang lemah) merupakan bentuk jamak dari “dha’if” (lemah) dan “al-masakin” (orang miskin), yang maknanya mencakup orang-orang miskin. Maksudnya adalah peringatan untuk tidak menyakiti orang yang tidak memiliki penolong kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu orang yang saleh, miskin, dan lemah yang tidak diperhatikan dan tidak diperhitungkan.
Dan yang tampak jelas adalah bahwa pembicaraan di sini adalah tentang penyiksaan tanpa hak, sebagaimana dalam ayat ini, sehingga tidak berlaku untuk hukuman, karena hukuman adalah sesuatu yang diperintahkan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang beriman dan orang-orang yang beriman perempuan tanpa suatu dosa yang mereka lakukan” (yaitu tanpa kejahatan yang mereka perbuat), “maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Ayat ini) secara zahir dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang munafik yang menyakiti Ali radhiyallahu anhu, atau dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang yang berbuat fitnah, atau dikatakan turun berkenaan dengan orang-orang yang berzina yang mengikuti perempuan sedangkan mereka tidak mau ( benci).
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (٤١٦٧)
(حاشية الرملي) (قَوْلُهُ: تُعْتَبَرُ قَرِينَةً دَالَّةٌ عَلَى الاسْتِهْزَاءِ وَعَلَيْهِ فَمَا جَرَتْ الْعَادَةُ بِهِ مِنَ الْبَصَاقِ عَلَى التَّوْحِ لِإِزَالَةِ مَا فِيهِ لَيْسَ بِكُفْرٍ، وَيَنْبَغِي عَدَمُ حُرْمَتِهِ أَيْضًا، وَمِثْلُهُ مَا جَرَتْ الْعادَةُ بِهِ أَيْضًا مِنْ مَضْعُ مَا عَلَيْهِ قُرْآنُ أَوْ نَحْوُهُ لِلتَّبَرُّكِ بِهِ أَوْ لِصِيَانَتِهِ عَنْ النَّجَاسَةِ. وَبَقِيَ مَا وَقَعَ السُّوَّالُ عَنْهُ وَهُوَ أَنَّ الْفَقِيهَ مَثَلًا يَضْرِبُ الْأَوْلَادَ الَّذِينَ يَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ بِأَلْوَاحِهِمْ هَلْ يَكُونُ ذَلِكَ كُفْرًا أَمْ لَا وَإِنْ رَمَاهُمْ بِالْأَلْواحِ مِنْ بَعْدِ فِيهِ نَظَرٌ، وَالْجَوابُ عَنْهُ بِأَنَّ الظَّاهِرَ الثَّانِي؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِنْ حَالِهِ أَنَّهُ لَا يُرِيدُ الِاسْتِخْفَافَ بِالْقُرْآنِ، نَعَمْ يَنْبَغِي حُرْمَتُهُ لِإِشْعَارِهِ بِعَدَمِ التَّعْظِيمِ كَمَا قَالُوهُ فِيمَا لَوْ رَوْحَ بِالْكُرَّاسَةِ عَلَى وَجْهِهِ، وَقَالَهُ حَجَ فِي الْفَتَاوَى الْحَدِيثِيَّةِ
إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص: ٥٦
ومنها الإستهانة بما عظم الله والتصغير بما عظم الله من طاعة أو معصية أو شيء من قرآن أو من أمره أو من نهيه أو وعده أو وعيده أو بشيء من علم شرعي وآلته أو جنة أو نار فكل ذلك من المعاصي الموبقات والخبائث المهلكات بل بعضها إذا قصدت به الإستهزاء يجري إلى الكفر والعياذ بالله ذلك كما تقدم أول الكتاب فانظر إلى إبليس لما أمر بسجود كيف أبعده الله من رحمته لإستصغاره ما عظم الله حيث قال لا أسجد لمن خلقت طينا وقال أنا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين وقد قال الله تعالى منوها بتعظيم ما عظمه ومن يعظم حرمات الله ومن يعظم شعائر الله والله أعلم إهـ
Nihayatul Muhtaj ila syarhi al-Minhaj (halaman 4167)
(Catatan kaki oleh ar-Ramli): (Beliau berkata: “Perbuatan tersebut dianggap sebagai qorinah yang menunjukkan atas penghinaan. Oleh karena itu, apa yang biasa dilakukan orang untuk meludahkan pada tanah liat (untuk menghilangkan kotoran yang menempel), itu bukan kufur. Dan seharusnya tidak dihormati juga. Begitu pula hal yang sama dengan kebiasaan meludahkan apa yang ada di atasnya Al-Qur’an atau yang semisalnya untuk mendapatkan berkah atau untuk menjaganya dari najis.
Dan masih ada pertanyaan yang belum terjawab, yaitu seorang faqih misalnya memukul anak-anak yang belajar darinya dengan papan tulis mereka, apakah itu termasuk kufur atau tidak? Dan jika dia melemparkan papan tulis itu setelah itu, maka perlu diperhatikan.
Jawabannya adalah yang kedua lebih kuat, karena yang tampak dari keadaannya adalah dia tidak bermaksud untuk meremehkan Al-Qur’an.
Memang, perbuatan itu harus dihindari karena menunjukkan kurangnya penghormatan, sebagaimana yang mereka katakan tentang seseorang yang meletakkan buku catatan di wajahnya. Dan hal ini juga disebutkan oleh al-Hajj dalam fatwa-fatwa hadis.”)
Referensi
Is’ad ar-Rafiq, Bagian Kedua, halaman 56
Di antaranya adalah meremehkan apa yang telah Allah muliakan dan memperkecil apa yang telah Allah muliakan, baik itu berupa ketaatan, maksiat, sebagian dari Al-Qur’an, atau perintah-Nya, larangan-Nya, janji-Nya, ancaman-Nya, atau sesuatu dari ilmu syari’at dan alatnya, seperti surga atau neraka. Semua itu termasuk dosa besar, kejelekan, dan penyebab kebinasaan.
Bahkan sebagian di antaranya, jika dilakukan dengan tujuan menghina, maka akan mengarah pada kufur. Naudzubillah min dzalik. Hal ini sebagaimana telah disebutkan di awal kitab. Perhatikanlah Iblis, ketika diperintahkan untuk sujud, bagaimana Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya karena meremehkan apa yang telah Allah muliakan, ketika dia berkata, “Aku tidak akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah liat”, dan dia berkata, “Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah liat”. Dan Allah Ta’ala telah berfirman dengan menunjukkan kepada kita untuk memuliakan apa yang telah Dia muliakan, “Barangsiapa memuliakan apa yang telah Allah muliakan, maka sesungguhnya Allah telah memuliakan orang-orang yang beriman.” Dan Allah SWT Maha Mengetahui.
Wallahu A’lam Bisshowab
___________________
11 Januari 2025